
Stage berikutnya itu adalah requirement gathering, requirement gathering itu entry point nya adalah
requirement-requirement yang ada atau perubahan-perubahan yang terjadi apa saja gitu dalam software development nya.
Terus untuk exit kriterianya bagaimana agar kita bisa keluar dari fase requirement gathering ini.
Nah agar bisa keluar output nya adalah kita membuat yang namanya software requirements specification document.
Baru itu dilempar ke stage berikutnya yaitu stage analisis.
Nah di stage analisis ini entry point nya adalah yang tadi software requirement specification documents
atau bisa juga entry point nya perubahan-perubahan yang terjadi di dalam software tersebut.
Sesuai dengan kebutuhan klien baru nanti exit kriterianya itu
setelah itu dibuatlah namanya software requirement spec document = software requirement gathering tadi.
Baru itu pindah ke stage desain nah di stage desain ini entry point nya yang tadi
software requirements specification document, exit kriterianya apa?
Desain ini exit kerjanya adalah dibuatnya sebuah desain specification document.
Jadi udah jadi desain specification document nya kita udah bisa masuk ke tahap development.
Tahap development setelah entry point nya udah ada yang tadi desain specification document
baru kita buat aplikasinya di situ di buat semua tim itu fokusnya di develop aplikasinya
udah dibuatnya dari frontend nya, backend nya, fungsi fungsionallity yang ada,
modul-modul yang dibutuhkan software tersebut semuanya bikin di sini.
Setelah dibuat unit-unit yang udah jadi itu nanti akan menjadi output
atau exit kriteria dari development stage ini. Barulah itu kita bisa masuk ke stage testing tadi.
Nah di stage testing ini entry point nya ada unit, modul atau fungsi-fungsi yang udah jadi di fase development.
Jadi yang udah jadi itu dikumpulkan jadi satu itu diintegrasikan
nah mereka akan membuat yang namanya test case di dalamnya nih.
Jadi ini yang biasanya tuh developer bilang test case nya gimana, testing nya gimana.
Ini testing nya pakai apa gitu pakai behavior, pakai user testing, pakai testing yang model seperti apa
pasti sering dengar di sosial media tentang ya gimana developer melakukan testing nya.
Testing itu sering terjadi di fase testing dan integrasi ini itu output nya
baru output nya ketika udah tidak ada software yang cacat apa fungsi-fungsi yang cacat udah enggak ada modul-modul yang cacat
testing nya semua lancar all clear baru masuk ke state development nya.
State developer nya itu exit point nya apa gitu, exit point untuk deployment ini
itu biasanya adalah build deployment into production nah ini sering banget nih
orang nanya nih, orang nanya ke saya Ki gimana progres yang kemarin udah kelar belum?
saya pasti bilang oh sudah di server development udah tinggal di push ke production
itu berarti itu udah selesai dan tinggal go live saja itu artinya
nah pasti sering tuh teman-teman kalau ngelihat developer atau engineer itu
ada chat-chat di dalam grup whatsapp, grup telegram atau grup select nya pasti ada hal-hal kaya gitu.
Artinya software yang udah jadi di software development nya
tinggal masuk ke server production nya gitu. Nah yang terakhir adalah operation and maintenance.
Nah di sini untuk operation dan maintenance itu nah itu dikumpulkan tuh
software bukan dikumpulkan sorry. Jadi software yang udah jadi itu di tes
tuh oleh enduser dicoba-coba oleh enduser mereka pakai kadang kalau mereka menemukan masalah
nanti langsung dilapor, lapornya kemana? ke support tim atau support manager yang sempat kita bahas di week berikutnya.
Karna dia akan manage bug fixing isu dan beberapa kendala yang ada di software yang kita kembangkan.
Nah itu pembahasan singkat tentang software development life cycle, exit kriteria dan entry kriterianya
